Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mencintai Dalam Diam

 


"sekian hari aku mulai terbiasa dengan berbagai rasa sakit yang aku terima. mencintaimu dalam diam ternyata sama saja menjemput banyak duka. aku tahu bahwa kamu bukan memintaku hadir sebagai pemenang melainkan hanya sebatas penenang. semakin diam aku semakin pula tidak tumbuh rasamu." Pesan itu masih jelas di dalam ingatan ku, persembahan terakhir yang ku berikan sebagai hadiah perpisahan.

Aku masih tidak pulih sampai saat ini, beberapa kenangan mencintai mu dalam diam masih mengusik ketenangan jiwa hingga sekarang. Aku berkali-kali ingin terus egois, agar kamu memilih aku, namun perkara hati aku tidak bisa memaksamu. Aku percaya bahwa di balik segala rasa yang aku punya untukmu, pada akhirnya akan sampai meskipun tanpa kamu sadari.

Jika perkara menyesal menaruh rasa padamu, pendapatku itu juga tidak sepenuhnya salah. Sebab sedari awal aku yang tidak berterus terang padamu. Aku memilih berdiam diri agar tidak menggangumu, bahkan untuk menyesal karena cintaku tidak terbalas pun rasanya tidak mungkin dapat terjadi jika kamu tidak pernah tertarik padaku.

Setiap waktu bersamamu dengan tawa dan tangis sudah cukup menjadi ingatanku yang selalu terjaga, walaupun duka itu telah aku kemas sendiri. Aku masih ingat ketika kamu bercerita hingga berderai air mata, tentang masalah cintamu yang tidak terbalas oleh orang yang paling kamu ingin miliki. Hatiku sebenarnya sakit medengar, karena aku teramat sangat mengerti bagaimana rasanya mencintai tanpa bisa memiliki. Aku pun bahkan ingin ikut menangis dihadapanmu, sayangnya tidak bisa. Sebab aku ingin terlibat sebagai seorang yang menyembuhkanmu bukan malah menambah lukamu. 

Aku pun juga ingat, bagaimana kamu datang padaku dengan senyum manis dan tawa bahagia. Kamu bercerita sedari kopi pesananmu panas sampai menjadi dingin. Tanpa henti tanpa jeda. Ceritamu berbeda dari beberapa bulan lalu, kali ini kamu bilang bahwa seorang yang ingin kamu miliki ternyata juga menyimpan rasa yang sama. Tentu saja aku tidak bisa berkata apapun, entah ingin ikut tertawa bahagia atau meneteskan air mata, namun aku sadar keadaanku jauh lebih menyedihkan dari cerita sebelumnya.

Sehabis tawa itu sirna dan di ganti oleh duka. Aku meyakini bahwa mencintai dalam diam adalah perilaku paling sopan dalam cinta. Aku bahkan tidak memberi nya luka, aku tidak menyakitinya, dan aku tidak meninggalkan nya. Meskipun aku tersakiti dengan alasan melihatnya bahagia. Aku belajar bahwa menunda menyatakan rasa sama saja dengan siap terluka.

Sekarang aku pun mencoba perlahan pergi meninggalkan kenangan yang terindah ini. Melihatnya bahagia dengan orang yang mencintai dan dicintai nya. Meskipun aku masih berdoa agar Tuhan juga memberikan aku bahagia yang serupa.


Posting Komentar untuk "Mencintai Dalam Diam"