Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aku Yakin

 


Hai, apa kabar, apakah kau sedang baik-baik saja? 

Hmm, kurasa tidak, karena aku baru saja mendengar kabar jika dia yang baru kemarin mengenggam jemarimu kini telah berhasil menghancurkan hatimu. Kau mematung seperti manusia yang tak lagi bernyawa. Sangat terlihat dari rona wajahmu jika kau tidak percaya semua telah berubah dan menghilang.

Lantas, reaksi apa yang harus kuberikan untukmu? Haruskah aku menertawakan kebodohanmu atau aku harus mengasihani kepedihanmu? Tapi tenang saja, tentu aku akan memilih pilihan yang ke dua. Laki-laki macam aku jika berani menertawakan di saat kau terluka? Lalu, laki-laki kurang ajar mana yang sebenarnya berani memberimu luka?

Aku yakin jika kau pantas untuk bahagia, kau pantas untuk mendapatkan yang lebih baik. kalau bukan hari ini, mungkin di hari nanti. Jika kau tidak meyakini apa yang aku yakini, maka yakinkanlah kebahagiaanmu kepadaku, lalu akan kubuktikan jika bahagiamu yang sebenarnya adalah ketika kau berada dipelukanku.

Kau hanya mampu terdiam dan menangis begitu deras layaknya rintik hujan yang turun untuk membanjiri bumi. Aku heran mengapa kau masih begitu tegar, padahal dia telah meninggalkanmu kedinginan di ujung kutub khatulistiwa. Kau lagi-lagi membuatku bingung. Apakah aku harus menertawakan atau kagum kepadamu? Mungkin aku harus memilih pilihan yang ke dua lagi. Aku memilih untuk mengagumimu, karena pada dasarnya kita sama. 

Kita adalah dua orang yang sama-sama tegar ketika takdir menjelma menjadi sesuatu yang tak pernah diharapkan. 

 Sudahlah, jangan terlalu larut di dalam lautan duka. Kau harus segera keluar dari rengkuhan lara. Jika kau merasa bahwa semua sedang tidak baik-baik saja, maka kau boleh mengangkat kedua tanganmu untuk menyerah, atau kau harus mengangkat kedua tanganmu untuk berdo’a, supaya kau tetap dikuatkan dan diberikan jalan agar tidak pernah mengenal arti kata menyerah. 

Seharian penuh aku terus menemani kesedihanmu. Aku ikut duduk bersimpuh di balik batu di pinggiran sungai bersamamu. Ketika langit mulai menghitam, aku tetap memilih setia menemanimu untuk menunggu datangnya bintang di tengah gelapnya malam. Bahkan jika perlu akan kutemani kau sampai cahaya sang fajar kembali hadir untuk menerangi bumi. 

Entahlah dengan alasan apa aku bisa sampai rela menemani dan hadir di saat kau jatuh terluka, padahal kau selalu pergi dariku ketika kau merasa jatuh cinta. Mungkin saja aku ingin berusaha bersikap dewasa untukmu. Tapi terkadang bersikap dewasa dan membodohi diri sendiri itu sangat tipis perbedaanya.

Hei, berhentilah menangis. Bukankah sekarang sudah ada aku yang menemanimu di sini. Harusnya kau tidak perlu menangis untuk orang yang tidak pantas untuk ditangisi. Harusnya kau tidak perlu memberi hati kepada orang yang tidak memiliki hati. Dan harusnya kau tidak perlu memberi perasaan kepada orang yang tidak memiliki perasaan. 

Seharusnya di saat dia bercanda, kau hanya perlu ikut tertawa, bukannya malah jatuh cinta.

Tapi ya sudahlah jika kau masih bersikeras untuk tetap menangis. Mungkin itu adalah caramu untuk melepaskan duka. Nanti, setelah lukamu telah reda, maka dekatkanlah dirimu pada mereka yang mampu membuatmu bahagia, bukan malah dengan orang-orang yang membuatmu terluka. Kau harus tegas dengan hatimu. Kau pantas untuk memilih cara bahagia yang lebih baik.

Aku yakin, dia yang melepaskan genggamanmu hari ini memang sengaja membuat tanganmu kosong agar kelak mampu digenggam oleh seseorang yang tak’kan pernah melepaskanmu. Dan aku yakin, suatu hari nanti orang itu adalah aku.


Posting Komentar untuk "Aku Yakin"