Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Taman Mimpi

 


Sebelum kedatanganmu, aku pernah mencintai sepenuh hati, meski akhirnya harus dikhianati. Aku pernah mencoba untuk berjuang kembali, meski akhirnya juga harus dijatuhkan berkali-kali. Aku selalu saja gagal dalam berjuang sepenuh hati, mungkin karena memang hatinya sudah tidak diperuntukkan bagiku lagi. Hingga pada akhirnya aku hanya mendapat lelah dalam berjuang dan memutuskan untuk berhenti.

Hingga pada suatu hari, di sebuah taman senja yang telah kita janjikan untuk bertemu di sana. Kau datang dengan sapaan ringan yang mampu menenangkan hati,  lalu kau putuskan untuk mengajakku pergi ke sebuah perpustakaan di sebuah kota yang kau sebut sebagai “Hati”. 

Kala itu, kau begitu antusias untuk memilih dan membaca sebuah buku yang berisikan banyak cerita-cerita pendek. Ada berbagai genre cerita di dalamnya, dari yang romantis, dramatis, bahkan yang menceritakan tentang masa lalu sekalipun. Di antara semua genre itu, kau memilih genre masa lalu untuk nantinya bisa kau ceritakan kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum dan duduk manis di sampingmu, mengikuti keinginanmu agar tetap tenang ketika mendengarkan segala cerita tentang masa lalumu. 

Lembaran demi lembaran telah kita lewati. Halaman demi halaman terus kau ceritakan kepadaku dengan sepenuh hati. 

Aku yakin ketika itu kau tidak sadar telah meneteskan satu demi satu air matamu di dalam dadaku. Kau berhasil menanamkan sebuah benih harapan di dalamnya, yang kelak kuyakini akan tumbuh sebagai cinta yang akan terus mekar dan berbuah manis, agar nantinya mampu menanungi dan meneduhkanmu.

Setelah selesai semua ceritamu, kau memutuskan untuk mengajakku pergi ke sebuah taman yang berisikan mimpi-mimpimu. Kau bilang, jika kita berdua di izinkan untuk masuk tanpa harus memiliki karcis. Aku ingat sekali ketika kau mengenggam jemari tanganku sembari membawaku berkeliling taman. Tidak ada orang lain selain kita berdua di dalamnya. Kau mengajakku untuk melihat-lihat berbagai tanaman yang ada di sana; ada yang baru saja mekar dan juga ada yang telah lama dibiarkan layu. 

Setelah cukup lama berkeliling taman, kita pun akhirnya memutuskan untuk duduk dan berteduh di bawah sebuah pohon. Kulihat dari kejauhan, ternyata ada orang lain selain kita di taman ini. Rupanya, taman yang terdapat mimpi-mimpimu ini telah dimiliki oleh seseorang, dan orang itu adalah “Aku”. 

Di bawah pohon yang rindang ini, kita melihat dari kejauhan bagaimana aku yang sedang menuntun langkahmu, mendengarkan segala keluh kesahmu, sembari mendekap dan mejaga hadirmu. 

Aku baru saja menyadari tentang satu hal. Bahwa di taman ini, kau telah berhasil mengajakku untuk menjadi bagian dari mimpi-mimpi indahmu.

Di atas pohon tempat kita berteduh, kulihat ada burung-burung yang sedari tadi bernyanyi di atas pucuk-pucuk tangkai pepohonan. Satu demi satu burung-burung itu mulai kembali ke sarang tatkala petang telah merayap pulang. Senja yang sedari tadi sibuk memayungi semesta dengan kilaunya, kini telah hilang dijemput gelapnya malam. Kulihat di sampingku ada wajah cantikmu yang tengah tertidur pulas di pundakku. Aku tidak enak hati ingin membangunkanmu dari tidurmu yang nyenyak, sehingga kubiarkan saja waktu terus berlalu hingga malam tiba. Sebenarnya dibanding harus membangunkan tidurmu, aku lebih tertarik untuk membangun masa depan bersamamu.

Aku selau yakin, jika Tuhan selalu saja punya cara lain untuk mempertemukan dan membahagiakan kita berdua. Kita yang berawal dari sebuah kegagalan di masa lalu, kini telah dipertemukan oleh do’a-do’a baik yang pernah ditunda kehadirannya. 



Posting Komentar untuk "Taman Mimpi"