Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nyanyian Puisi


 *Sudah seminggu setelah puisi ini kukirimkan kepadamu. Aku harap puisi ini bisa sampai di tanganmu dengan baik dan aman. Siapa tau saja kalau kau sudah teringat kembali tentangku, kau bersedia untuk membacanya.*

Sebelum kau membaca puisi ini, kau harus pastikan bahwa ini bukanlah buku komik yang bisa kau baca dengan begitu cepatnya. Bacalah dengan tenang. Berusahalah untuk bisa menemukan hadirku dengan segala pesan dan makna di setiap bait kata-katanya.

Juga sebelum kau membacanya, aku ingin memberitahumu bahwa sebelum puisi ini telah berhasil kurangkai menjadi seluas samudra, aku harus mampu terlebih dahulu menyelam ke dalamnya untuk menjemput segala kenangan tentangmu ke luar ingatan.

Lalu, sebelum kau membaca puisi ini, pastikan agar kau menutup mata dan mulutmu. Jadilah hening, tenang, dan diam untuk sementara waktu. Kau hanya perlu menghadirkan hatimu agar mampu mendengar suaraku. Lalu,  biarkan aku yang menyanyikan setiap sajak di dalam puisi ini dengan segala rasa untukmu.

Kumohon, diamlah sejenak. Dengarkan aku bernyanyi bersama burung- burung yang berkicau di pundakku. Nyanyian puisi ini adalah kumpulan nada dan melodi yang kurekam dari perjalanan memori tentang kita berdua, dari daun telingamu yang ketika itu berbunga hingga akhirnya gugur berjatuhan pada jurang yang tak berdasar. 

Tertawalah sesuka hatimu ketika aku telah selesai bernyanyi. Kau boleh menertawakan segalanya, karena di dalam setiap melodinya akan kau temukan lirik-lirik kepedihan dan harapan yang pernah kusandingkan untukmu di dalam jejak do’a-do’a malam.

Sekarang pejamkanlah matamu, dan simaklah nyanyian puisiku ini…..

Saat kita pertama kali bertemu, aku yakin bahwa Tuhan mentakdirkan kita bukan hanya untuk sekedar bermain tatap yang hanya berakhir dengan saling meratap. Aku yakin kita dipertemukan oleh Tuhan untuk bisa saling berharap agak suatu hari nanti antara kau dan aku bisa menjadi tempat untuk bisa saling menetap.

Saat kita pertama kali bertemu, kau telah berhasil menjadi rumah angan yang membuatku merasa begitu nyaman. Jika di dalam sebuah hubungan diperlukan sebuah kepastian, maka kau tidak perlu risau, karena kau telah berhasil mendapatkannya.

Jika di dalam sebuah harapan diperlukan adanya kesepakatan, maka kau tidak perlu takut, karena segala jiwa dan ragaku telah bersepakat untuk bertaut. Aku merasa tidak akan pernah mampu jauh dalam waktu yang lama darimu, karena hanya dengan waktu yang sangat singkat kau telah berhasil mencuri hatiku. Kini, aku telah bersepakat bersama perasaan untuk memilihmu sebagai nadi kehidupanku.

Jika kau telah selesai membaca nyanyian puisiku ini, maka bukalah matamu agar kau mampu melihatku sebagai masa depan, dan bukalah mulutmu agar kau mampu memanggil namaku meski jarak di antara kita masih dipisahkan. 

Jika kau telah kembali mengingat namaku dan mulai terkulai di dalam rindu. Maka datanglah kembali padaku, atau cukup aku saja yang menjemputmu dari sudut waktu yang berbeda. Tidak perlu terburu-buru untuk kembali menjadi satu. Kau juga tidak perlu takut dengan kesabaranku dalam menunggu kembali hadirmu di sisiku. Kau tidak perlu khawatir, karena aku akan senantiasa menikmati prosesnya.

Suatu hari nanti, ketika Tuhan telah mempertemukan kita kembali, akan kusiapkan untukmu secangkir kemesraan dan sekotak kasih. Juga kusiapkan untukmu berbagai macam rasa makanan, entah itu manis, asin, atau pahit sekalipun. Juga tidak lupa akan kusiapkan untukmu desain dan warna-warni ruangan pertemuan kita, agar pertemuan kita nanti bisa lebih berwarna.

Jadikanlah aku sebagai tempatmu pulang. Penyambutan terbaik akan kusuguhkan kepadamu, bahkan akan kuminta agar langit membunyikan suara hujan di luar sana, agar pelukan kita tak perlu lagi bersuara.

1 komentar untuk "Nyanyian Puisi"

Diksi pemanis 5/17/2021 01:32:00 PM Hapus Komentar
Ciee yg besook tambah tuaaa