Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kita Ini Hanya Sebatas Teman

 


Jika boleh, izinkanlah aku untuk bercerita tentangmu. Tentang bagaimana aku menghadapi perasaan yang seharusnya tidak pernah ada. Tentang pertemuan kita di akhir bulan Januari yang lalu. 

Jujur saja, aku pernah merindukanmu, bahkan sampai saat ini. Perasaan ini begitu nyata adanya, serta tak’kan pernah mampu untuk disampaikan dengan kata-kata. 

Pernah terpikir olehku, “Jika aku mulai rindu, maka akan segera kusampaikan kepadamu”. Namun, hal itu kuurungkan, karena aku sadar, aku ini hanyalah laki-laki biasa dihadapanmu. Meski begitu banyak orang di luar sana yang mengatakan, “Bahwa setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan isi hatinya kepada orang yang dicintai, karena siapapun harus berjuang untuk bisa memiliki.” Mungkin hal ini memang benar adanya, tapi aku memilih untuk tidak mempercayainya. Aku harus memaksakan diri bahwa rindu ini tidak perlu disampaikan. Aku harus menolak kenyataan bahwa rindu ini pernah ada. 

Jika tiba waktu di mana aku harus jatuh cinta lagi kepadamu, maka aku akan berusaha untuk menahan diri sembari membentak hatiku, “Siapa yang membuatmu jatuh cinta? Siapa, Ha?! Siapa yang membuatmu menulis banyak sekali puisi cinta yang bertebaran di mana-mana? Apakah kau sadar jika dia belum tentu merasakan hal yang sama denganmu atau bahkan tidak sama sekali. Jika demikian, maka berhentilah! Jangan pernah memaksakan cinta kepada orang yang tak pernah mengharapkanmu.”

Jika tiba waktu di mana aku harus merindukanmu, maka aku akan segera menyadarkan diriku lagi, bahwa aku hanyalah laki-laki biasa dihadapanmu. Aku sangat yakin jika kau tidak pernah sedikit pun meneteskan air mata untukku. Lalu, bagaimana mungkin aku bisa membuatmu berada disampingku, ketika tidak ada suara tangis yang harus kuredam, ketika tidak ada setetes air mata yang bisa kukeringkan? 

Pada kenyataanya, di antara kita berdua, kau hanya sibuk tertawa dan itu berhasil membuatku jatuh cinta, tanpa sedikit pun merasakan adanya segores luka di dalam dada. Lantas, bagaimana caranya kau bisa menjawab perasaan ini ketika segala rintihan hati tidak pernah mampu kutanyakan kepadamu?

Kau tahu, ketika kau mengatakan bahwa “Kita ini hanya sebatas teman”, ada begitu banyak rindu yang akhirnya tidak pernah bisa tersampaikan, dan ada begitu banyak rasa yang akhirnya tidak mampu terbalaskan. 

Aku sadar, bahwa pertemuan demi pertemuan yang kita lalui tak’kan pernah mampu kuanggap sebagai kencan. Dan pesan yang kau hadirkan untukku ketika siang dan malam pada dasarnya bukan untuk sebuah keseriusan, melainkan hanya sebatas candaan.   

Aku sadar, jika aku tidak punya hak untuk merasa cemburu kepada mereka yang selalu berada didekatmu. Aku tidak memiliki hak untuk merayakan hari-hari penting bersamamu. Aku tidak berhak marah ketika kau berbuat salah. Bahkan aku tidak memiliki hak untuk mengharapkanmu sebagai pasangan. 

Karena pada dasarnya, “Kita ini hanya sebatas teman.”

Ketika hujan turun, aku harus menganggapnya sebagai fenomena alam biasa, di mana bulir-bulir air hujan jatuh dari langit menuju bumi, hanya sebatas itu dan tak’kan pernah lebih. Aku tidak memiliki hak untuk menyangkut-pautkannya hujan dengan kenangan dan rindu, meski aku sadar bahwa kita pernah berada di dalamnya.

Pertemuan yang kita lakukan hanyalah sebatas pertemuan biasa. Ketika kau dan aku duduk berdua di bawah pohon yang rindang layaknya sepasang kekasih yang terikat dalam sebuah hubungan. Kita tertawa dan membicarakan banyak hal. Harus kuakui, ketika bersamamu aku mampu menemukan kebahagiaan. Tapi sekali lagi aku harus sadar, semua yang pernah kita lakukan tak’kan pernah mampu kuanggap sebagai kebiasaan yang harus kukenang setiap kali aku merindukanmu.

Sekarang aku semakin yakin, jika semua tulisan tentang harapan bersamamu mungkin hanya akan berakhir sia-sia. Dan segala do’a yang pernah kupanjatkan untukmu mungkin tak’kan pernah disetujui oleh semesta. 

Karena pada dasarnya, “Kita ini hanya sebatas teman.”


Posting Komentar untuk "Kita Ini Hanya Sebatas Teman"