Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Setetes Kenangan

 


Pagi ini, hujan datang menyapa bumi. Membawa setetes kenangan yang membuatku lagi-lagi harus merindukanmu. Kau tahu, kenangan itu tidak datang sendiri, dia datang dengan membawa bayangmu bersamanya. Aku hanya bisa duduk dan memperhatikan sembari memejamkan mata. Semua terasa begitu hangat dan membahagiakan, namun juga menyakitkan dalam waktu yang sama, karena aku harus kembali tersadar bahwa pada kenyataanya kau tak lagi berada didekatku. Kau juga harus tahu, kenangan itu tidak hanya datang bersama bayangmu, dia juga datang bersama segala angan yang dulu ingin kita bangun berdua. 

Setiap detik yang terus berlalu, mampu membuat setetes kenangan itu semakin merasuk ke dalam pikiranku dengan mudahnya. Menjadikan semuanya lebih jelas dari sebuah realita yang telah berlalu. Hanya saja aku tahu jika itu bukanlah kenyataan yang sebenarnya, melainkan hanya sebatas fatamorgana. 

Kuputuskan untuk tetap duduk dan memejamkan mata sembari mencari hadirmu di dalamnya. Menjelajahi setiap kenangan yang pernah kutuliskan bersamamu bagaikan kembali membuka sebuah lembaran buku yang kini telah menua. Aku begitu bersemangat untuk mengingatnya, karena itu adalah saat-saat dimana kita pertama kali bertemu. Semakin cepat aku membukanya, maka semakin rapuh dan mudah hancur lembaran itu. Semakin kasar aku membolak-balikkan setiap halamannya, maka semakin rusak dan pudar setiap kata-kata di dalamnya. Seharusnya aku bersikap lebih tenang, tapi bagaimana mungkin aku bisa tenang jika itu adalah tentangmu. 

Waktu itu, kau datang kepadaku bagaikan kepakan sayap kupu-kupu. Tidak ada kehadiran yang kurasakan, dan tidak ada hentakan yang kudengarkan. Kedatanganmu masih belum mampu membuatku bergelora. Aku sama sekali tidak memberikan perhatian apapun padamu kala itu, bahkan walaupun itu hanya sekedar menatapmu dari kejahuan. Namun, layaknya kepakan sayap kupu-kupu, secara perlahan namun pasti, kau semakin pandai membuatku terpikat dengan segala pesonamu. 

Meski harus dalam waktu yang lama, perlahan aku mulai menghargai kehadiranmu. Aku mulai menyambut baik kedatanganmu. Aku mulai menghubungkanmu dengan sebuah rasa yang selalu bisa memikat hatiku. Seperti sebuah rasa ketika aku berada di dalam sebuah ruangan dengan penyejuk udara, namun aku bisa merasakanmu sebagai sinar matahari yang hadir untuk menghangatkan badan. Kau terasa begitu hangat namun juga dingin. Kau memberikanku sebuah rasa yang begitu membuatku candu. 

Namun, semua ini hanyalah tentangmu di masa lalu. Pada akhirnya kita pun bersepakat untuk hidup bahagia, dengan cara yang berbeda, meski tidak berakhir bersama. Dan ketika itu terjadi, begitu banyak pertanyaan yang selalu menagih untuk ditemukan jawabannya, bahkan hingga saat ini. 

Bagaimana jika waktu itu kau lebih dahulu menemukan orang lain dibanding aku, akankah aku masih memiliki kesempatan untuk bisa mengenalmu?

Bagaimana jika waktu itu aku tidak berada di kelas yang sama denganmu, akankah kau masih mau mengajarkanku tentang cara jatuh cinta? 

Bagaimana jika waktu itu kau tidak menyapaku terlebih dahulu, akankah aku bisa mengerti apa arti bahagia yang sesungguhnya?

Bagaimana jika waktu itu aku tidak menunggumu di bawah rintik sang hujan, akankah aku bisa mengerti bagaimana cara menjadi atap pelindungmu? 

Lalu, mengapa Tuhan mencinptakan cinta di antara kita jika tidak untuk dipersatukan?

Bagiku kau adalah rahasia terbaik yang telah Tuhan ciptakan di dalam semestaku. Aku percaya bahwa alam semesta selalu berjalan dan berdetak sesuai ketentuannya, begitu pun dengan kau dan aku. 

kita tetap bersama, meski hanya di dalam kenangan. 

Kita tetap saling mendo’akan, meski tak’kan pernah mampu memiliki. 


1 komentar untuk "Setetes Kenangan"

Diksi pemanis 4/13/2021 01:52:00 AM Hapus Komentar
Deep sekalii