Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Luka Yang Tak'Kan Pernah Reda


Aku ingat sebuah moment di saat kita pertama kali bertemu. Kala itu kau datang dihadapanku tanpa permisi. Kau menceritakan banyak hal tentang rutinitasmu di hari itu. Dengan anehnya, aku hanya mampu duduk tersenyum sembari mendengarkan segala ocehanmu, tanpa sedikitpun aku bisa lari dari pandanganmu. 

Entah mulai kapan setelah pertemuan itu. Mulai tumbuh sajak-sajak cinta di dalam setiap lembar tulisanku, dan setiap baitnya selalu saja tertulis namamu. Entah mulai kapan setelah pertemuan itu. Aku mulai belajar untuk bisa memiliki dan dimiliki, cemburu dan peduli,  khawatir dan kecewa. 

Aku juga ingat sebuah moment di saat kau “Pertama kali” pergi  meninggalkanku. Aku menyebutnya sebagai pertama kali, karena setelah itu kau terus saja datang dan pergi berkali-kali tanpa ada sedikit pun rasa yang kau sesali. 

Entah mulai kapan setelah kau pergi meninggalkanku untuk yang pertama kali. Aku mulai belajar untuk bisa memaafkan dan menanti, bersabar ketika disakiti dan dikhianati. Dan aku mulai belajar caranya memberi kesempatan meski harus berulang kali kau bodohi.

Aku sadar bahwa di antara kita berdua tidak pernah ada sebuah ikatan, dan itulah alasan mengapa aku menjadi ragu kepadamu. Aku khawatir di saat kau telah kembali, dan aku mulai kembali memperjuangkanmu sepenuh hati, kau malah sibuk kembali mencari bahagiamu pada hati yang lain. Itulah alasan mengapa aku tak pernah benar-benar mampu mengenalmu. Tak pernah benar-benar mampu memahami apa yang sedang kau lakukan, bersama dengan siapa dirimu sekarang, dan sampai kapan kau ingin membuat hubungan kita tetap menggantung seperti ini.

Pada dasarnya kau tidak pernah benar-benar hadir di antara kita. 

Malam ini, kau mengulang kembali kesalahan yang sama.  Entah siapa sebenarnya yang bodoh di antara kita. Untuk yang kesekian kalinya, kau kembali pergi meninggalkanku tanpa aba-aba, kau kembali mencari bahagiamu yang lain di luar sana. 

Kau bilang jika perasaan ini adalah sebuah kesalahan. Kau berucap bahwa jatuh cintaku kepadamu ini datang terlalu cepat.

Sebenarnya apa maksud perkataanmu itu? Apakah kau ingin mengatakan jika kita ini sebenarnya baru saja memulai untuk saling mengenal satu sama lain? Atau kau ingin berucap bahwa aku tidak pernah pantas menjadi lirik di dalam lagumu? Atau kau ingin melarangku menjadi pelita di dalam gelapmu? Begitu? 

Lalu, sebenarnya siapa di antara kita yang salah? Apakah aku yang salah karena jatuh cinta pada hadirmu yang menghangatkan? Apakah aku yang salah karena merasa nyaman dengan segala puisi yang kau berikan di setiap malam? Apakah aku yang salah karena percaya dengan segala janji yang pernah kau berikan?

Lantas apa gunanya aku memberikan hati jika kau tidak ingin memberikan kepastian. Lalu apa gunanya aku berusaha menggapai tanganmu jika kau tidak pernah ingin mengenggam.

Ah…!! Sudahlah. Aku lelah. Aku menyerah.

Aku bosan karena terus menjadi tempat berlabuhmu yang sementara. Lalu, setelah itu kau pergi lagi untuk mencari bahagiamu yang berbeda. Lantas setelah beberapa bulan telah terlewati, kau kembali datang membawa mawar untuk kau sematkan di dalam dada. Sudah berapa banyak mawar yang kau berikan padaku, namun pada akhirnya hanya kau biarkan saja menjadi layu. Adakah sedikit malu di dalam dirimu? Pernahkah kau mengerti bahwa kembalinya hadirmu hanya akan menorehkan luka di dalam hatiku? 

Kumohon pergilah, bukan untuk waktu yang sementara, melainkan selamanya. Tamatkan lembaran hadirmu di dalam hariku sebagai titik, bukan koma.  Kau datang untuk pertama kalinya di hadapanku tanpa permisi, pun juga dengan kepergianmu. Tanpa permisi, tanpa diskusi, dan tanpa sedikit pun rasa peduli. 

Kumohon pergilah dan jangan kembali, karena aku mulai belajar menikmati setiap rasa yang hadir dalam ketidak hadiranmu.

Setelah malam itu, aku berjanji tidak akan pernah ada lagi degub-degub cinta untukmu. Kau hanya akan kujadikan sebagai lakon di dalam setiap sajak puisiku. Bukan sebagai ungkapan bahagia, melainkan sebagai luka yang tak’kan pernah reda.



Posting Komentar untuk "Luka Yang Tak'Kan Pernah Reda"