Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Senyuman Terakhir

 


*Catatan yang sederhana ini kutuliskan untuk mengenang segala tentang dirimu dan cerita cinta kita 30 tahun silam.* 

Hari itu, cahaya sore begitu lembut menyapa kehadiranmu. Kau datang dengan senyuman sembari mengucapkan salam pertemuan kita. Sore ini kau ikut mengantarkanku dalam perjalanan ke dermaga. Itu adalah moment di mana aku bisa memandang bola mata indahmu  untuk yang terakhir kalinya. Kau tersenyum begitu indah layaknya mawar yang baru saja merekah. Di dalam diam, tanpa terucap sepatah kata pun, kau berjanji untuk selalu menunggu kepulanganku. Pun juga denganku yang berjanji padamu agar suatu hari kelak akan kembali ke pelukanmu. Kasihku, do’akan segala kebaikan untukku ketika aku pergi dari dermaga ini dalam perjalanan menuntut ilmu.

Memilih di antara keinginan orang tua atau tetap bersamamu adalah dua hal yang begitu sulit untuk disatukan. Andaikan saja kau tahu, bahwa meninggalkanmu bukanlah hal yang sederhana untuk kulakukan. Begitu banyak hal yang bergejolak di dalam hati. Begitu banyak suara yang merintih ketika kuputuskan untuk pergi menuju dilatasi waktu yang berbeda.

. . . . . . . .

Di tempat yang berbeda ini, ketika aku memandang rembulan, selalu saja terkenang senyummu yang selalu hadir untuk melengkapi keindahannya. Terlebih ketika aku harus teringat senyummu yang terakhir kalinya. Semua itu mampu menggoreskan setetes pilu dan kelu di dalam sanubariku. 

Entah kapan aku akan kembali pulang untuk kembali mengenggam erat jemari tanganmu, dan memulai kembali hari-hari bersama dengan segala cerita dan kisah yang ingin kusampaikan kepadamu. Aku ingin kembali menjadi sepasang sayap untukmu sebagai bidadari senja, lalu menari bersama ketika cahaya sore mulai menunjukkan keindahannya. 

Waktu ini begitu lambat berlalu. Kapal yang membawaku terus berlayar menuju kesunyian malam. Aku hanya mampu megisi kekosongan waktu dengan melamunkanmu di dalam sepi. 

Cahaya senja mulai lenyap, langit mulai semakin gelap, dan raga kita kini benar-benar telah dipisahkan oleh jarak. 

. . . . . . . . . .

Seiring berjalannya waktu, aku telah tumbuh menjadi lelaki dewasa. Tentu saja yang kumaksud bukan hanya tentang usia, namun juga tentang sikap dan cara berpikir. Aku sangat disibukkan dengan segala pekerjaan yang menumpuk, membuatku sulit untuk mencari waktu kembali ke kampung halaman. Pernah terbesit di dalam pikiranku untuk kembali pulang meskipun masih dilanda kesibukkan, namun orang tuaku belum memberikan restu dalam kepulanganku. 

Pada suatu ketika, orang tuaku datang untuk melepas rindu. Mereka juga bercerita tentangmu, bahwa kau di sana sedang baik-baik saja. Namun pada akhirnya aku tahu bahwa yang disampaikan oleh mereka hanyalah sebagai bentuk pengobat lara. Karena rupanya kini kau telah pergi meninggalkanku tanpa pesan dan tanpa senyuman sedikit pun kepadaku. Kau pergi meninggalkanku sebelum aku mampu menunaikan janji kita. 

Jika kukatakan kau tidak adil dengan semua perpisahan ini, mungkin kau akan memarahiku di Surga nanti. 

. . . . . . . . . .

Waktu terus berlalu. Ribuan hari harus kulalui tanpa ada hadirmu yang menemani. 

Kini, segala cerita tentangmu hanyalah sekedar angan. Semua cerita tentang kita yang akan kembali berjumpa hanya akan menjadi sebaris do’a. Indahnya bola mata dan senyum terakhirmu kala itu akan selalu menjadi kenangan terakhir di dalam hidupku.

Kasihku, jangan repot-repot membawa cinta kita ke Surga. Di sana, kau hanya perlu menanti kedatanganku dengan senyumanmu yang indah. Akan kubawa dan kupersembahkan semua cinta dan rindu yang pernah kita tanam selama di dunia. Dan kelak akan kuceritakan segalanya padamu, bahwa tanpamu  aku semakin terluka, tak mampu lagi aku menghadirkan senyum di hari esok, seperti saat aku masih mampu mengenggam jemari tanganmu.

Kasihku, tidak ada yang salah di dalam cerita cinta kita. Ini adalah jalan hidup yang telah Tuhan lukiskan untuk kita berdua. Tenanglah kau di sana, kasih. Akan kupeluk kau di dalam kenangan untuk waktu yang lebih dari selamanya. 

Memperjuangkan cintamu tidak boleh setengah hati. Termasuk dalam menepati janji, adalah bagian dari caraku untuk mencintai. “Aku akan kembali kepelukanmu”

END

. . . . . . . . . .

*Kasih, catatan sederhana ini telah selesai kutuliskan tepat ketika senja mulai menyapa. Cahayanya bagaikan lukisan yang menggambarkan kita ketika masih bersama. Sorot sinarnya yang telah menua tetap begitu indah untuk dipandang, mengingatkanku kembali pada senyuman terakhir, dan indah bola matamu kala itu.*

Seandainya saja kau tahu, di bawah langit senja yang sudah menua ini, aku masih merindukanmu.


Posting Komentar untuk "Senyuman Terakhir"