Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aku Mampu, Namun Tidak Denganmu



Banyak dari mereka yang mengira kalau aku adalah orang yang selalu berdamai dengan kehidupan. Tenang dalam menitih jalan pendidikan. Selalu bisa fokus untuk menjadi yang terbaik, setidaknya untuk diriku sendiri. Mereka tidak tahu jika sebenarnya selalu ada badai di dalam hatiku, yang senantiasa bergemuruh dengan segala angin kerinduan. Aku senantiasa beriman kepada satu hal, bahwa setelah badai tiba maka akan selalu ada pelangi yang kelak akan menghias kembali senyumku. Membuatku yakin bahwa menunggumu akan membuahkan hasil yang berakhir bahagia. Tapi pada akhirnya, ini semua hanyalah tentang anganku yang tak berujung temu. Setelah segala penantian yang kuharapkan di setiap malam, telah kau patahkan sekejap tanpa adanya alasan.

Sudah berapa lama di sini aku berjuang sendiri menunggumu. Dengan bahasamu yang bisu, kau memintaku agar terus menantimu di dalam sunyi. Sampai kapan kau ingin aku seperti ini? Sampai aku lelah? Jika itu yang kau inginkan, maka berhentilah. Kumohon cukup sampai di sini saja. Aku lelah dengan segala egomu, dan sabarku kini telah lemah karena kesalahan yang terus-menerus kau ulang kepadaku.

Sudah berapa kali aku memaafkanmu. Sudah berapa banyak aku memberimu kesempatan.  Dengan mudahnya kau minta padaku untuk memaafkan kesalahanmu yang dulu dan yang akan datang nanti. Seakan aku harus menerima segala sakit yang akan kau berikan padaku kelak. Dan dengan bodohnya aku memberimu kesempatan lagi dan lagi untuk kembali menyakitiku. Apakah sudah jelas kebodohanku dihadapanmu? Bodoh karena aku tak pernah mengerti kata menyerah jika itu adalah dirimu.

Semakin hari, kau semakin menjadi seseorang yang tak pernah kuinginkan kehadirannya. Sikap dinginmu mulai nyata karena hatimu kini telah membeku. Bahasa puisi yang dulu kau berikan kini telah menjadi kaku. Segala rayuan manismu yang dulu kau berikan kini telah menjadi kelu. Langkahmu tak lagi seirama denganku. Hadirmu yang kini mulai pudar, tidak memberikan apapun kecuali luka. Kau bukanlah dirimu yang dulu. 

Untuk apa dulu kau berjanji akan selalu mengenggam jemariku. Jika pada akhirnya tanpa alasan apapun kau pergi meninggalkanku. Sudah banyak sekali semoga-semoga yang kuberi amin sendiri di dalam sujudku.  Sudah terlalu banyak pengorbanan yang kuberi agar kau kujaga, namun kau selalu saja sibuk memaksa untuk dilepaskan. 

Aku sadar jika aku bukan lagi duniamu. Kau hanya menganggapku sebagai bahagia yang sementara, bukan selamanya. Rinduku tidak lagi menjadi harapmu. Sedihku bukan lagi jadi urusanmu. Mimpiku bukan lagi yang ingin kau wujudkan. Kau mulai pergi mencari bahagiamu yang lain. Tanpa peduli dengan segala kenangan yang pernah kau torehkan untukku. Secara perlahan kau menggiring kata “Kita” untuk menjadi bagian dari masa lalu.

“Apakah kamu sedang merasa sedih dengan “Kita” yang sekarang?” Tanyamu kepadaku. Haha… dasar pertanyaan bodoh. Tentu saja aku merasa sedih. Karena kau mampu membuat hati kita terpisah di saat aku masih berusaha mengimbangi langkahmu. Sebab kau berhasil membuatku merasa sendiri di saat kita belum benar-benar saling mengakhiri. 

Kau bilang bahwa do’a adalah cara terbaik agar harapan kita bisa dikabulkan. Mungkin itulah alasan mengapa kau selalu saja mendo’akan kehadirannya. Sedangkan aku selalu setia mendo’akan kedatanganmu, untuk kembali kepadaku. 

Hari lagi-lagi berganti hari. Pagiku tanpamu terasa begitu singkat, dan malamku tanpa hadirmu terasa begitu abadi. Di saat sepi mulai memelukku, membuatku mempertanyakan semua hal kepada sunyi, mencari jawaban dalam ketidakpastian, yang lahir dari tangis-tangis yang disembunyikan.

Aku ini mampu membenci, 

aku pantas untuk membalas,

dan aku bisa untuk melupakan, 

namun tidak denganmu.


Terima kasih sudah membaca karya kami, semoga memberikan inspirasi.

Dukung blog ini dengan komentar yang menarik dan bagikan ke media sosial yang kamu miliki

Jangan lupa berkunjung kembali.👋


Posting Komentar untuk "Aku Mampu, Namun Tidak Denganmu"