Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Payung


Jarum jam tangan ku menunjukkan pukul 11.45 ketika cuaca mendung dengan di ikuti beberapa rintik hujan. Halte bus yang ku singgahi untuk mengantarkan aku pulang masih dalam keadaan sepi. “Tidak lama pasti akan banyak yang berteduh, jika rintik hujan ini semakin deras” ucapku membatin.

Sembari mengisi kebosananku yang sedari tadi menunggu. Aku terus memperhatikan gerak awan hitam menyapu langit, semakin berarak dengan cepat menjadikan langit semakin gelap, pertanda hujan akan datang. Kulihat di jadwal tertulis bahwa bus akan tiba tepat pukul 12.00 artinya aku masih akan menunggu sekitar 15 menit di sini.

Siaran radio yang sedari tadi aku dengar melalui earphone kesayanganku masih terus berbunyi. Si penyiar sedang memutarkan sebuah lagu tentang hujan. Ia bilang di cuaca seperti ini lagu tersebut dapat mewakili perasaan para pendengar. Aku tertawa kecil ketika mendengar penyiar tersebut mengatakan hal itu, karena secara tiba-tiba aku pun teringat akan seseorang.

Seseorang yang selalu mengingatkan padaku perihal jatuhnya rintik hujan. Setiap pertama kali tetes hujan jatuh menyuarakan rintiknya dengan nyaring. Dia selalu mengatakan, “Hei! Hujan” dengan menatapku penuh tawa. Aku memang selalu menyukai hujan, sebab ada beribu cerita yang aku miliki di balik hujan, selain itu aku sangat menyukai beragam warna payung yang digunakan orang-orang ketika hujan.

Aku memang bukan orang yang pandai dalam menaruh hati kepada siapapun. Sesekali aku merasa, bahwa mengingatnya bukan suatu hal yang baik. Bukan karena menahan sesak karena kerinduan, tapi mengingat bahwa kami tidak bisa dipersatukan. Seseorang itu hanya sekedar mengingatkanku pada datangnya hujan, dan tidak lebih dari sekadar itu. Tapi lagi-lagi aku menertawakan diriku sendiri, karena bisa-bisanya mengharapkan seseorang yang bahkan tidak mengharapkan aku sama sekali. 

Hujan akhirnya turun dengan begitu derasnya, bahkan lebih cepat daripada bus yang kutunggu sedari tadi. Halte tempatku menunggu bus seketika menjadi penuh. Banyak para pengemudi roda dua dan pejalan kaki yang singgah untuk bernaung. Siaran radio yang aku dengarkan pun sudah selesai, dan aku kembali menatap hujan yang berangin. 

Aku menyenderkan kepalaku disalah satu dinding halte. Melihat-lihat kendaraan yang berlalu lalang. Memperhatikan orang-orang yang singgah; datang dan pergi. Menghitung banyaknya orang yang menggunakan payung. Dan yang pasti, menunggu bus agar segera datang. Sambil terus memperhatikan jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 12.23. 

“Teeeet!” bunyi klakson bus terdengar. Akhirnya datang juga bus yang sedari tadi kutunggu. Bergegas aku masuk kedalam bus, mencari tempat duduk yang paling nyaman. Perjalanan pulangku menghabiskan sekitar 30 menit. Namun karena jalanan licin dan hujan yang masih deras, bus tidak bisa melaju seperti biasa nya. Dan menjadikan perjalanan pulang semakin lama. 

Dari dalam bus aku menatap keluar jendela, masih dengan pemandangan yang sama. Melihat banyaknya rintik hujan yang turun dengan deras. “Ada lagi satu kisahku yang baru dari hujan kali ini”, kataku pada diri sendiri.

Aku dapat mengerti bahwa jatuh cinta dan berdiri di bawah rintikan hujan ternyata sesuatu yang sama. Keduanya dapat menciptakan bahagia dan tenang. Membuat segalanya menjadi jauh lebih baik dari sebelumya. Jatuh cinta akan terasa bahagia ketika tidak ada penghianatan dan penghancur. Sama halnya dengan berdiri di bawah rintikan hujan, akan terasa tenang ketika tidak ada gemuruh dan petir. Selain sama-sama menciptakan kedamaian, keduanya pun mengajarkan bahwa setiap akhir akan selalu menyakitkan. Karena tidak selamanya jatuh cinta akan terasa bahagia, selalu ada sakit yang harus di terima. Dan tidak selamanya berada di bawah rintikan hujan terasa tenang, karena setelahnya selalu ada demam.

Jatuh cinta tidak terbalas ibarat mendung yang tidak berarti mengundang hujan. Kalaupun berakhir tidak membuat bahagia, pasti akan ada hal yang mampu melindungi keduanya dari rasa sakit. Ketika jatuh cinta tidak terbalas, yakinlah selalu ada seseorang yang akan datang untuk membalasnya. Begitu juga dengan berdiri di bawah rintikan hujan, akan selalu ada payung untuk melindungi. 

Seketika aku berpikir. Apakah jatuh cintaku di kemudian hari akan mendapatkan seorang yang mampu membalasnya atau dia hanya sebagai payung yang melindungiku dan menemaniku untuk melihat PELANGI setelah hujan.

Seperti mendung yang mengundang hujan, seperti cinta yang mengundang dirimu.



Terima kasih sudah membaca karya kami, semoga memberikan inspirasi.
Dukung blog ini dengan komentar yang menarik dan bagikan ke media sosial yang kamu miliki
Jangan lupa berkunjung kembali.👋

1 komentar untuk "Payung"

Unknown 2/03/2021 05:49:00 PM Hapus Komentar
Nice