Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kumpulan Puisi Ibu


[TANYA IBU]

Hangat nestapa hadir bersama terik.
Seorang anak kecil mengusap peluhnya yang bertitik.
Dalam genggaman tangan ibu nya yang telah pelik.
Berhenti ia sejenak pada tatapan yang melirik.

Bayang-bayang tentang kehidupan yang mencekik.
Seorang anak kecil bertanya-tanya lirik.
Tentang hidup apakah terus membaik.
Meski tahu ibu nya tidak ingin diusik.

“Bu, apa benar dunia hanya masalah politik?”
“Bu, apa benar dunia pendidikan tidak begitu menarik?”
“Bu, apa benar dunia ekonomi hanya sebatas pabrik?”
“Bu, apa benar dunia agama kini semakin fanatik?”

Tidak nak... dunia ini bukan hanya tentang politik.
Bukan juga tentang nilai yang menarik.
Kau pun tidak harus bekerja di pabrik.
Tidak pula harus menjadi seorang fanatik.

Nak, dunia membutuhkan seorang yang baik.
Menganggap kebaikan meski hanya setitik.
Bukan orang-orang yang kebal akan kritik.
Berbicara lantang dengan kesalahan yang menggelitik.

Nak, kelak kau akan tau hangat fajar kau gunakan memang untuk menyambut terik.
Kau akan tau makna dari setiap peluh yang menitik.
Kau pun akan tumbuh meski sedikit pelik.
Sampai kau tau nak, dunia hanya membutuhkan (mu) dengan versi terbaik. 

[SIAPA DIA]

Beberapa tulisan menggambarkannya dengan keanggunan.
Tingkah laku kerasnya kadang menjadi keangkuhan.
Penilain watak dirinya hanya sebatas rias dandan.
Beberapa mengatakan hiasan, beberapa mengatakan murahan.

Terkadang ia membutuhkan penghormatan.
Meskipun beberapa menusukkannya tatapan.
Hari demi hari seakan menambah tekanan.
Namun ia tau, takdir hidup bukanlah sebuah beban.

Cermin tua memberikannya bukti hukuman.
Mata yang sudah tidak memancarkan kebinaran.
Wajahnya pilu yang tampak hanya kerutan.
Terlihat jelas uraian rambut yang beruban.

Lamunan membuatnya terdiam kedalam sebuah pikiran.
Mengapa waktu berlalu cepat tanpa bisa dihentikan.
Mengingatkan padanya tentang perubahan perawakan.
Dahulu berkelana pada semesta, sekarang sudah tak memiliki kekuatan.

Tidak ada lagi warna pelangi dan hanya tersisa kegelapan.
Banyak pesan yang tidak sempat ia katakan.
Hanya hati kecil yang berkata, apakah dia makhluk mulia yang diciptakan Tuhan?
Dan sekarang sedang menunggu sebuah kematian.

 


Posting Komentar untuk "Kumpulan Puisi Ibu"