Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengingatmu Di bawah Rembulan


Aku tidak pernah bosan memandang rembulan. Cahayanya begitu lembut dan nyaman untuk dipandang. Kehadirannya selalu menjadi peneman bagiku di kala aku sudah siap untuk bertemu denganmu di dalam ingatan. Membuatku teringat kembali tentang kisah cinta kita 7 tahun silam. 

Dulu kau pernah bilang jika kita akan selalu sedekat nadi apapun yang terjadi. Dulu kau juga selalu bilang bahwa tak ada satu pun ada rintik hujan yang boleh menyapa mataku. Hari-hari itu adalah saat di mana aku ingin waktu berhenti untuk lebih dari selamanya, karena ketika ada kau disampingku maka segala sesuatu telah menjadi lukisan tanpa makna.

Namun, ketika jarak mulai menguji kita. Perlahan langkahmu mulai pudar tanpa alasan, bahkan sapamu tidak lagi menjadi pesanku di pagi hari. Kau mulai lupa untuk menjadi nadiku, dan kau mulai lupa bagaimana menjadi tempatku berteduh di kala hujan ingin menyapa. Kini semesta mulai terasa hampa, dan “Renggang” mulai menjadi satuan kata dalam hubungan kita. Kau mulai berubah, yang tanpa kusadari kau semakin jauh dalam melangkah menuju kata “Pisah”. 

Aku tidak paham arti bahagia kecuali ada tentangmu di dalamnya. Hari-hariku hanya bewarna ketika membaca kembali tulisan-tulisan yang pernah kau bisikkan padaku. Perlahan aku mulai berteman dengan rembulan. Aku sering bertanya kepadanya “Apakah kau merasa sedih saat tahu bahwa kau dan matahari tak’kan pernah bersatu?” Namun, rembulan itu hanya menjawabku dengan cahayanya tanpa ada satu kata pun yang terucap. 

Sampai akhirnya langkahmu telah menghilang ditelan keheningan malam yang tak terbatas, yang tak mungkin lagi bisa kutemukan jejaknya. Aku harus belajar bahwa kehilanganmu adalah kenyataan yang harus diterima, dan aku harus sadar bahwa bertemu kembali denganmu hanyalah sebatas angan. Aku yakin bahwa tak pernah terbesit sedikitpun darimu untuk berpisah dariku dengan cara yang baik, meskipun aku sadar bahwa tak’kan pernah ada perpisahan yang baik. 

Harusnya perpisahan bukanlah solusi dari penyelesaian hubungan kita. Aku yakin sebenarnya kita bisa saling mendewasakan diri untuk tetap bertahan. Namun, jika sebenarnya kata “Bosan” yang menjadi jawaban atas egomu, lantas dengan cara apalagi aku harus meyakinkanmu.

Ribuan kata tak’kan pernah cukup untuk mewakili kehilanganmu. Seribu puisi yang kutulis tak’kan pernah cukup untuk mengahapusmu dari ingatan. Kau adalah sosok yang tak pernah sederhana untuk dilupakan. Kau mengajarkanku bahwa kebahagiaan itu memiliki batas, bahwa semua akan kembali “Sendiri” pada waktunya. 

Saat kau telah benar-benar pergi, ingin segera kuhapus foto-foto kenangan lama kita agar aku mampu untuk segera melupakanmu. Namun, aku sadar bahwa melupakan bukanlah dengan menghapusmu dari ingatan, tapi dengan cara menerima kenyataan bahwa kau memang telah ditakdirkan bukanlah untukku. 

Saat ini aku sibuk memikirkanmu. Sibuk dengan berbagai khayalan yang jelas tak’kan mungkin untuk kembali. Di atas teras malam, di bawah cahaya rembulan, kuciptakan hadirmu dalam lamunanku yang sendu. Menulis rintihan sajak yang bercerita tentangmu. Mengingatmu adalah kegiatan rutinku meskipun aku sadar bahwa cintamu tak lagi berlabuh untukku. 

Alasan mengapa aku terus mengingatmu adalah bukan untuk mencari cara bagaimana kita akan kembali, tapi untuk mencari jawaban tentang bagaimana aku harus melupakanmu. Air mata yang menetes ketika mengingatmu telah menjadi tinta untuk menulis rangkaian kata yang kini sedang kau baca.

“Aku percaya bahwa bahagia akan pergi bila telah tiba waktunya, 

dan aku pun juga percaya bahwa kesedihan akan memudar bila telah tiba masanya.” 


4 komentar untuk "Mengingatmu Di bawah Rembulan"

Mr. Andy 1/25/2021 07:57:00 PM Hapus Komentar
😍😍😍😍
Diksi pemanis 1/31/2021 10:26:00 AM Hapus Komentar
Buat penulis boleh minta tanda tangannya nggak
JD Theme 2/02/2021 09:34:00 AM Hapus Komentar
kak saya izin ambil buat belajar