Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kau dan Setangkai Mawar

Pagi ini aku pergi ke sebuah kebun yang kuberi nama sebagai “Hati”. Sejauh mata memandang, kebun itu hanya dilukis sebagai tanah lapang dengan sedikit rumput liar di sekitarnya. Meski begitu, bagiku itu bukan lah masalah, karena aku sudah terbiasa memandang lukisan hampa yang sudah semesta hamparkan untukku. 

Gerimis mulai menyapa kebunku pagi itu, dan kau pun hadir sebagai tamu yang tak pernah kuundang kedatangannya. Waktu itu, kau memberikanku sebuah bibit yang kusebut sebagai “Senyuman”. Aku pun menerimannya, meski tidak tahu harus kuapakan. Kau bilang aku boleh menanamnya, sehingga nanti akan tumbuh sebagai bunga yang kelak akan kusebut sebagai “Perasaan”. Setelah pertemuan itu, kita pun berpisah dan berjanji akan betemu kembali ketika musim semi telah tiba. 

Waktu terasa sangat lambat untuk mempertemukan. Hujan pun juga tidak henti-hentinya datang menjenguk bumi. Aku lelah jika harus menunggu di dalam rumah yang kusebut sebagai “Sepi”, sembari menanti hadirmu di garis waktu yang berbeda. 

Ketika nanti musim semi telah tiba, aku khawatir jika kau melupakan janji yang telah kita catat di bawah rintik jemari sang hujan. Aku takut jika harus merasa kehilangan sebelum memiliki. Namun, kuharap ini hanya sebatas kekhawatiranku semata, bukan sebuah ketakutan yang pada akhirnya harus kuterima sebagai realita.

Hingga pada suatu pagi, ketika mentari tak lagi malu menampakkan teriknya. Kita akhirnya bisa bertemu kembali di suatu taman rahasia yang berhiaskan tanaman kopi. Saat itu, aku menyebutnya sebagai pertemuan yang didambakan, karena hadirmu kala itu adalah sebuah moment yang telah kuberi nama sebagai “Harapan”. 

Kita berdua sepakat untuk mengawali pertemuan ini dengan sebuah senyuman. Yang kala itu, ketika aku harus melihatmu tersenyum, aku seperti merasa semua kekhawatiranku yang dulu telah sirna, dan rasa takutku sebelumnya telah pergi entah kemana. Padahal, pertemuan kita saat itu sangatlah sederhana, dan kita berdua pun juga sepakat untuk menamainya sebagai pertemuan rahasia.


Percakapan demi percakapan yang kita rakit saat itu, telah membuat kita saling mengenal satu sama lain. Pertemuan demi pertemuan yang kita lalui telah menumbuhkan bibit bunga yang baru, yang kelak akan kuberi nama sebagai “Cinta”.

Suatu hari, ketika kau dan aku berada pada suatu halaman yang berisikan banyak bunga indah di dalamnya. Kala itu, aku terlalu sibuk mencari cara agar bisa melihat paras cantikmu tanpa harus kau ketahui. Dan aku begitu malu ketika kau sadar jika aku sedang terpaku menatapmu. Gugup, takut, dan tersipu hati ini. Aku ingin bersembunyi di tengah teriknya matahari, namun sadar ku tak’kan mampu. Tapi, pada akhirnya itu bukanlah masalah, karena dengan segala kekonyolan yang terjadi, sekali lagi aku mampu melihat senyummu yang kembali merekah. 

Aku ingat ketika kau menunjuk suatu bunga yang belum pernah kulihat bentuknya. Kau memetik dan menamainya sebagai mawar. Yang dengan segala keanekaragaman warnanya yang memikat, kau memilihnya sebagai bunga favoritmu. Kau berkata padaku jika suatu hari nanti kau ingin menjadi setangkai mawar, karena tanpa harus menunjukan wanginya, dia sudah sangat dicintai karena keindahannya. Di sana, kau benar-benar membuatku terlena, membuatku tak sadar jika telah terlalu dalam memeluk duri yang berada di antara hadirmu.

Di dalam hening yang mulai tercipta. Ketika malam tak lagi bersuara, kau mulai membuat kalimat yang tak kumengerti maknanya. Kau tersenyum melihatku karena memasang ekspresi tidak paham. Seketika kau berkata padaku, jika bunga yang hadir di musim semi, pada akhirnya akan layu ketika cahaya mentari telah berganti menjadi fatamorgana. Saat itu, aku tidak paham dengan maksud arah pembicaraanmu. Dan saat itu, aku juga tidak sadar jika dibalik gelapnya malam ada satu bayangan yang telah lama menanti agar kelak mampu mengenggam jemarimu. 

Kau bilang bahwa ini adalah malam yang menyenangkan, namun sudah waktunya untuk kau kembali pulang. Pertanyaan demi pertanyaan mulai mengendap memaksa untuk berucap. Entah mengapa aku merasa jika kau mulai abadi dalam ketiadaan, karena setiap langkah kepergianmu mulai menjadikan kita kembali asing satu sama lain. 

Musim berganti musim. Burung-burung yang bernyanyi di atas pucuk-pucuk tangkai pepohonan mulai kembali ke sarang tatkala petang telah merayap pulang. Senja yang sedari tadi sibuk memayungi semesta dengan kilaunya, kini telah hilang dijemput gelapnya malam. Dalam alunan yang begitu damai, kau hadir sebagai melodi yang saat itu kuberikan judul sebagai “Perpisahan”. Kau memberikanku sepucuk surat yang berisikan setangkai mawar di dalamnya. Kau bilang aku harus membaca dan mencari tahu sendiri apa maknanya. Dari mawar itu, kulihat ada dirimu yang menjelma di dalamnya. Aku pun segera mengerti dan mulai kupandang kedua bola matamu. Di dalamnya, aku menemukan dua realita; satu, adalah aku yang berada dihadapanmu, dan satu lagi adalah dia yang kini telah berada di jari manismu. 

Aku menarik nafas dalam-dalam dan melepasnya secara gusar. Dan kita berdua sepakat untuk mengakhiri malam ini secara damai, seperti dedaunan yang menerima angin, meski itu harus membuatnya gugur. 

Suatu hari nanti, di tengah kebun yang kuberi nama sebagai “Hati”, akan kulukis kau sebagai mawar, yang pernah menjadi bunga di antara rerumputan liar. Jika aku harus memberikan nama pada lukisan tentang dirimu yang ada di dalamnya, maka aku akan menamainya sebagai “Kenangan”.


Terima kasih sudah membaca karya kami, semoga memberikan inspirasi.

Dukung blog ini dengan komentar yang menarik dan bagikan ke media sosial yang kamu miliki

Jangan lupa berkunjung kembali.👋


Posting Komentar untuk "Kau dan Setangkai Mawar"