Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Intuisi

 


Kembali menjalankan rutinitas ku, memulai hari dengan membuka mata dan melihat embun di pangkal pagi adalah hal yang selalu ku nikmati. Hari ini embun memang terlihat sangat tebal seperti pertanda bahwa hari ini akan cerah, ”Ya, hari baik untuk aku pergi berjalan – jalan di sekitar komplek” kataku.  Inilah memang yang sering aku lakukan, memang aku disini tak begitu memiliki teman, dan entah mengapa aku juga tak begitu menginginkan mereka jadi aku lebih memilih untuk selalu menghibur diriku sendiri dengan hal-hal yang menurutku dapat membuat ku bahagia.

Tak lama aku berjalan di sekitar komplek mataku tertuju pada ‘Tempatku’ seperti itulah aku menyebutnya, sebuah Taman yang berada diujung komplek, menurutku taman itu adalah tempat ternyaman yang pernah ku temukan saat aku pertama kali ada disini tepatnya 3 tahun lalu. Meskipun hanya di ujung dan kalah menarik dari taman yang ada di depan komplek, aku tetap menyukai taman ini karena pohon nya yang besar dapat meneduhkan orang yang duduk di bawahnya.

Aku sedikit bingung melihat ada seseorang yang sangat ‘baru’ dan dia sekarang menempati tempatku itu, “Siapa dia? Aku tak pernah melihatnya sebelum nya, apa dia orang baru yang sekarang pindah kesini? Ah, sudahlah mungkin dia hanya kebetulan ingin duduk” fikir ku dengan penuh tanya.

Sudah cukup lama aku berjalan dan kembali lagi ke rumahku, menuju tempat favorit yang ada dirumah ini, benar saja itu adalah kamarku, aku merebahkan diri sejenak dikasur. “Huh, lelah juga... harus nya aku bisa duduk dengan santai di tempatku itu” kataku dengan kesal. Aku kembali memikirkan apa yang ku lihat tadi mengapa ada ‘seseorang’ yang duduk disana dan bahkan aku tidak mengenalinya.

Selama yang aku tahu orang-orang yang ada dikomplek ini tak pernah tertarik untuk datang ke taman di ujung ini dan malah memilih untuk mendatangi taman yang ada di depan komplek, alasannya adalah tidak ada kursi-kursi yang tersusun untuk tempat duduk di taman tempatku itu, “Sudahlah aku tak ingin membuat kepalaku pusing dengan pertanyaan yang tak ada jawabnya, aku akan menemui nya kalau besok kami bertemu lagi” kataku kepada diri sendiri.

Pagi ini embun yang terlihat tidak setebal kemarin, malah yang jelas sangat nampak hanya awan mendung, “Ah... bagaimana ini, bukan kah hari ini harus nya aku melihat tempatku?” kataku penuh kecemasan. “Bagaimana jika dia kembali lagi kesana? Aku sangat tidak ingin berbagi tempat dengan nya, apa lagi dia orang baru” cemasku semakin menjadi.

Akhirnya aku putuskan untuk tetap menemuinya hari ini juga, aku tidak perduli langit gelap di atas sana, kalaupun dia mengirimkan hujan untuk turun setidaknya aku dapat berteduh di pohon taman. Sekitar sepuluh menit aku berjalanan untuk sampai disana, dan benar saja kecemasan ku tadi orang ‘baru’ itu ada di tempatku, aku belum jelas melihat wajahnya karena yang aku lihat hanya belakang badannya saja, lebih tepatnya dia sekarang sedang membelakangiku.

Semakin dekat aku menghampirinya, “Apa dia tidak tahu kedatanganku? Mengapa ia membelakangi aku? Apa dia malu? Atau tidak ingin melihat aku? Aku tak menggangu” batinku kebingungan. Tiba-tiba dia berbalik dan kali ini dia menatap ke arahku memberi senyum, aku hampir kaget dan dengan seksama melihat nya. Dia menggunakan baju kemeja hitam putih dan sangat banyak kotak-kotaknya.

 “Lucu juga ada laki-laki menggunakan baju warna seperti itu” aku membatin kembali. Ternyata dia tahu aku datang, kali ini aku kembali merasa aneh setelah aku melihat matanya, tatapan nya seperti kosong seperti orang yang tidak dapat melihat.

“Maaf, apakah ada orang di sini?” dengan kebingungan dia bertanya. Dan benar saja dugaanku dia memang tidak dapat melihat, mungkin dia mengetahui kedatanganku karena langkah-langkah kaki ku yang mendekati dia.

“Iya, di sini memang ada orang, tapi aku tak mengganggumu. Aku hanya ingin bertanya!” dengan cepat aku menjawabnya. Dia pun balik bertanya, “Apakah pertanyaan itu sangat penting? Dan mengapa kau menjawab pertanyaanku dengan sangat cepat? Apa kau sedang terburu-buru? Dan apakah aku sudah berbicara tepat berhadapan denganmu?” kata nya lagi kepadaku. “Yang benar saja mengapa dia bertanya balik kepadaku dengan banyak pertanyaan, bukan kah harusnya aku yang bertanya banyak kepadanya” batinku semakin bingung.

“Oh... Iya kamu sudah benar berhadapan dengan aku, kalau menurutku ini memang sangat penting, aku tidak terburu-buru hanya saja aku berfikir bahwa kamu tidak mempunyai waktu untuk ini” jawabku lebih pelan kali ini. “Baiklah jika begitu, silahkan tanya saja apapun kepadaku.” Dengan melempar senyuman dia menjawab ku.

Aku berfikir berulang kali untuk bertanya tentang kejadian kemarin kenapa dia berada di taman ini, karena melihat kondisi nya aku pun urung menanyakannya. Setelah aku terdiam sejenak dia kembali berbicara, “Apakah kau jadi untuk bertanya?” tanya nya penasaran. Aku pun dengan ragu menjawabnya dan mencoba mencari bahan basa-basi pertanyaan, “Oh iya, apakah kau orang baru disini? Karena jujur saja aku tak pernah melihat mu sebelumnya?”

“Ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang? Menurutmu bagaimana?” katanya. Aku kaget untuk kedua kali nya dan tersadar bahwa dari tadi kami belum berkenalan. “Maaf aku sampai tidak ingat dengan hal itu, namaku Rara. Namu mu?” kembali aku bertanya lagi kepada nya.

“Oh iya tidak apa-apa aku sangat memakluminya, nama ku Bion” dia tersenyum lagi. “Aku memang orang baru disini, seminggu yang lalu keluargaku pindah ke komplek ini, rumah ku ada di persimpangan sana” sambil dia menunjukan letak rumahnya. Meskipun dia tidak melihat tapi dia tau persis itu dimana.

“Di hari ketiga aku pindah kesini, ibuku memberitahukan aku bahwa ada tempat yang sangat tenang dan cocok untukku dan dia menunjukkan tempat ini” kembali dia memberi penjelasan. Akhirnya aku menemukan jawabanku yang sangat ragu untukku tanyakan kepada nya. Tapi ada satu pertanyaan lagi yang ingin aku tanyakan kepada nya tenang penglihatannya. 

Belum lagi aku berfikir untuk bertanya dia sudah memberikan jawaban, “Maaf jika kamu merasa terganggu, aku tidak sama seperti mu. Aku tidak dapat melihat seperti orang-orang pada umunya dan aku lahir sudah seperti ini” jelasnya. Aku berhenti mencari pertanyaan.

Dan yang ku tahu adalah ini merupakan kali pertama aku bertemu orang seperti dia yang sangat terbuka dan sangat baik kepadaku. Tiba-tiba dia bertanya, “Antara hitam dan putih mana yang akan kau pilih?”

Aku sedikit bingung kenapa dia bertanya seperti itu, akhirnya aku menjawab “Aku memilih putih”. “Kenapa kau memilih putih” tanya nya. “Karena putih bagai penerang, bukankah begitu?” tanyaku kembali. 

“Memang benar, lalu kenapa tidak hitam? Bukan kah putih bisa berperan hanya karena adanya gelap dari hitam.” Aku diam sejenak. Dia cukup pandai dalam hal seperti ini. Aku kembali bertanya kepadanya, “Lalu bagaimana dengan abu-abu?”.

Dengan senyum bingungnya, dia menjawab, “Maksudmu jika semu terlihat nyata dan yang nyata terlihat semu” jawabnya dan melanjutkan kembali pernyataanya, “Itu sama saja kau harus bersyukur, kau bisa melihat gunakan itu untuk sebuah kebaikan, aku tak bisa melihat tapi aku mencoba untuk memberi yang terbaik.” 

Setelah mendengar jawabannya aku merasa bahwa apa yang terbatas dalam diri kita bukan berarti membuat kita akan jatuh dan berhenti berjuang, aku belajar bahwa badai bukan untuk di tunggu, melainkan menikmati hujan sambil menari.

Itulah hidup Bion,  pada kenyataan nya yang bisa dia lihat hanya gelap, tapi dia tau cara bagaimana membuat terang. Dan alasan nyata yang Bion miliki kenapa dia juga nyaman ada di taman itu atau ‘Tempatku’ adalah ia merasa bahwa ia harus pegi ke tempat yang memang harus ditemuinya.

Terima kasih sudah membaca karya kami, semoga memberikan inspirasi
Dukung blog ini dengan komentar yang menarik dan bagikan ke media sosial yang kamu miliki
Jangan lupa berkunjung kembali👋

Posting Komentar untuk "Intuisi"