Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hanya Tentang Kau dan Aku

 


Di kala senja mulai hadir untuk menyapa, kau datang memberi salam lewat pesan Facebook yang baru saja kubuat dua hari yang lalu. Bagiku itu adalah mimpi yang hadir dalam kenyataan. Namun, aku yakin jika salam itu cuma bentuk sapaan biasa untukku, hanya dikarenakan kita kebetulan berada di satu sekolah yang sama. Bagaimana mungkin aku punya hak untuk berharap lebih dari itu. Berharap bahwa salam itu sebagai bentuk perhatian lebih yang kau berikan untukku. Tapi, jika itu terjadi, kurasa semesta mulai berlebihan dalam bercanda denganku.

“Sebab, Keajaiban itu nyata, dan takdir adalah bagian dari keajaiban itu sendiri.” Kata-kata ini pernah kudengar dari sahabat baikku, dan kurasa perkataannya itu ada benarnya juga. Meski awalnya aku tidak terlalu percaya bahwa hal seperti itu ada. 

Berawal dari pesan singkatmu di sore itu, aku sadar jika semesta sedang tidak bercanda. Tuhan sedang berbaik hati untuk mengabulkan dan mengajarkanku tentang keajaiban dari selirik do’a yang pernah kutuliskan namamu di dalamnya. 

Hari demi hari terus berlalu. Percakapan demi percakapan kita pun juga selalu terhubung lewat pesan siang dan malam. 

Apakah kau sadar betapa lucunya kita? Ketika raga saling bertemu, kita lebih memilih untuk menunduk dalam ketidaktahuan. Akan tetapi, ketika jarak mulai memisahkan, kita mulai asik berbincang tentang arti mengenal satu sama lain. Engkau yang merupakan sosok primadona di sekolah kita sangatlah dikagumi oleh banyak siswa – terutama dari kalangan laki-laki. Sedangkan aku hanyalah siswa biasa yang hanya dikenal oleh orang-orang yang bahkan mereka pun sebenarnya tidak sengaja mengenalku. 

Detik demi detik terus berdetak. Pertemuan demi pertemuan menjadi rutinitas kita sehari-hari. Tanpa kita sadari, waktu secara perlahan telah mendewasakan kita berdua.

Dengan sabarnya, perlahan kau mulai meyakinkanku bahwa cinta yang tulus tak’kan pernah menilai kekurangan. Bahkan kau juga pernah bilang padaku, bahwa cinta, waktu dan jarak adalah tiga hal yang harus dipisahkan. Karena cinta yang tulus akan selalu ada untuk lebih dari selamanya, dan akan selalu hadir meski jarak tak pernah merestui. 

Aku tertegun mendengar ucapanmu. Bagaimana mungkin aku sempat terpikir untuk menyerah dengan segala keterbatasanku dalam mencintaimu, padahal kau selalu menerimaku apa adanya. Bahkan kau mengajarkanku jika menerima kekurangan adalah bagian dari cinta itu sendiri. 

Di suatu pagi, ketika kita sedang duduk berdua. Aku bercerita padamu jika aku masih sering tidak percaya bahwa kita benar-benar bisa bersama seperti saat ini. Sungguh, aku benar-benar bingung. Padahal, jika harus dibuat perumpamaan, maka aku ini hanyalah purnama yang terjebak oleh gelapnya malam. Sedangkan kau adalah matahari dengan segala keindahan senja yang kau miliki. Lalu, di mana titik temu persamaan kita? 

Kau tertawa ketika mendengarkan ceritaku. Kau pun balas berucap bahwa cinta adalah diksi yang tak berisi makna, yang selalu menjadi buta tatkala bintang mulai berhiaskan sang malam. 

Kau juga berkata jika cinta tak harus selalu tentang persamaan derajat ataupun kemampuan, karena cinta yang sesungguhnya adalah yang mengajarkan kita tentang arti menerima dan saling memahami perbedaan. 

Harus kuakui, selalu ada pelajaran yang bisa kuambil darimu saat kita sedang berbicara berdua seperti saat ini. Aku terpikir tentang satu kenyataan bahwa ketika kita bisa menerima satu kekurangan, itu jauh lebih baik dibanding harus memiliki banyak kelebihan. 

Tidak masalah jika mereka tidak sepakat dengan pemikiranku. Karena pada dasarnya catatan kisah ini bukan tentang mereka, melainkan hanya tentang kau dan aku. Tentang bagaimana aku mengimani adanya keajaiban.

“Sebab, keajaiban itu nyata, dan takdir adalah bagian dari keajaiban itu sendiri.”

Terima kasih, karena kau telah hadir sebagai “Kita” yang kini telah mengubah sudut pandang hidupku untuk selamanya.


Terima kasih sudah membaca karya kami, semoga memberikan inspirasi.
Dukung blog ini dengan komentar yang menarik dan bagikan ke media sosial yang kamu miliki
Jangan lupa berkunjung kembali.👋

1 komentar untuk "Hanya Tentang Kau dan Aku"

Eva Ari Yanti 1/28/2021 12:11:00 PM Hapus Komentar
Keren